STRUKTUR DAN FUNGSI ORGAN TANAMAN

BATANG.
Struktur dari anatomi pada batang , mempunyai tiga bagian pokok,.yaitu
1 ) Epidermis dan derivatnya , 2 ) Kortek, 3) Stele.
1. Epidermis dan Derivatnya .
Jaringan epidermis terdiri dari selapis sel yang berbentuk  persegi, sering dilapisi kutikula. Sel epidermis dijumpai pada batang yang masih muda , bila telah rusak maka fungsi sel epidermis diambi alih oleh periderm ( hipodermis ) . Pada batang yang mampu berfotosintesa dijumpai stomata, yang kelak berkembang mejadi lenti sel, sedang  batang yang masih muda dijumpai trikomata ( glan duler maupun non glanduler ). Pada batang beberapa tumbuhan dijumpai pula sel silica, sel gabus.
2. Kortek .
Terutama tersusun dari jaringan parenkim yang merupakan jaringan dasar. Didaerah peripir ( pinggir ) kadang-kadang terdapat kolenkim yang berkelompok atau membentuk lingkaran tertutup. Jaringan sklerenkim dapat berupa serabut yang berkelompok dan skelerida yang soliter. Sel-sel kortek dapat berisi tepung, kristal atau zat lainnya. Pada daerah kortek dijumpai idioblas dapat berupa sel minyak, ruang lender, sel lender, sel kristal , kelenjar minyak, sel hars, saluran gom, saluran lender.
Bagian kortek paling dalam disebut endodermis atau fluoterma atau sarung tepung, disebut denmikian karena terdiri atas selapis sel yang membentuk lingkaran dan berisis tepung. Endodermis pada batang yang telah dewasa ( tua ) tidak tampak lagi karena telah  rusak / mati, senbab oleh jaringan lain dari daerah stele.
3. Stele.
Merupakan daerah terdalam dari daerah endodermis , yang tersusun terutama oleh
perikambium , parenkim dan berkas vaskuler ( pengangkutan ) yang terdidri dari  xilem dan fluem. Fungsi xilem  adalah mengangkut bahan mineral dan air dari akar sampai ke daun. Fluem berfungsi mengangkut hasil asimilasi dari daun ke tempat-tempat penyimpan makanan cadangan dan bagian tubuh lainnya.
4. Empulur dan jari-jari empulur.
Bagian batang paling dalam , berkas pengangkutan tidak tersusun padat tetapi ada bangunan jaringan dasar diantaranya , yang disebut dengan empulur . Pada tumbuhan Monokotyledoneae, tidak dibedakan antara kortek dengan empulur, sehingga disebut jaringan  dasar.
Struktur normal dan anomali
Struktur batang yang normal yaitu : yang mempunyai satu lingkaran berkas pengangkut ( yang telah dibicarakan ). Pada tumbuhan tertentu dijumpai struktur yang tidak normal, yang disebut dengan stuktur anomali, sehinga dijumpai bentuk batang yang aneh atau bentuk batang normal tetapi mempunyai dua lingkaran berkas vaskuler ( pengangkutan ) . Satu lingkaran berkas vaskuler berada didaerah stele dan yang satu lengkaran berkas vaskuler berada didaerah kortek.
STRUKTUR ANATOMI AKAR
Berbeda dengan batang, pada akar tidak dijumpai bentukan buku dan ruas maupun daun, sehingga susunan jaringan-jaringan  di bagian akar yang berlainan relatip berubah. Xilem dan fluem pada akar tidak membentuk satu berkas melainkan tersusun berselang –seling tipe berkas vaskulernya adalah radial. Tipe berkas vaskuler pada batang kolateral, bikolateral atau amfivasa.
Pada penampang melintang akar primer dijumpai tiga sistem jaringan pokok, yaitu epidermis , kortek dan stele . Diujung –ujung akar terdapat pula bagian bagian akar yang lain yaitu tudung akar yang berfungsi untuk melindungi promeristem akar.
1. Epidermis.
Epidermis hanya dijumpai pada akar yang masih muda, apabila epidermis akar telah rusak, maka fungsi epidermis pada akar diambil alih fungsinya oleh eksodermis. Epidermis akar juga disebut epiblem atau rizodermis . Epidermis akar tidak dilapisi kutikula karena fungsi akar pengisap air.
Derivat epidermis pada akar.
Rambut- rambut pada akar.
Rambut-rambut pada akar yang dibentuk oleh trikoblas yang berfungsi untuk memperkuat bidang penyerapan air dan usur-unsur hara.
Pnematoda . Terdapat pada akar napas Rizopor ( bakau ) yang berfungsi seperti lenti sel pada batang.
2. Kortek.
Terutama tersusun  oleh parenkim sebagai jaringan dasar yang berfungsi sebagai jaringan penyimpan makanan cadangan . Jaringan penguat yang terdapat adalah sklelenkim, Idioblas dapat berupa sel / ruang minyak, sel /jaringan lendir, sel kristal , saluran resin ( damar). Kadang-kadang dijumpai antar sel yang terjadi secara sizogen atau lizigen, Bagian kortek yang terdalam berupa endodermis tersusun selapis sel yang melingkar,  sel- sel tersebut  ada   yang mengalami penebalan dinding berupa suberin  juga ada  tidak mengalami penebalan dinding . Sel yang tidak mengalami penebalan dinding disebut sel peresap.
3. Stele.
Perisikel juga disebut  perikambium, merupakan jaringan terluar dari stele yang terdiri atas selapis sel yang membentuk lingkaran atau berlapis-lapis dalam lingkaran hal ini biasanya dijumpai pada tumbuhan yang tergolong Monokotil.
Kadang pada stele dijumpai sel minyak dan serabut sklerenkim. Di bagian tengah akar, kadang-kadang dijumpai empulur yang tersusun oleh  parenkim. Idioblas dapat dijumpai didaerah empulur atau didaerah fluem, jenisnya sama dengan seperti yang terdapat didaerah kortek
STRUKTUR   ANATOMI DAUN
Secara morfologi dan anatomi daun itu merupakan organ tumbuhan yang paling bervariasi. Secara histologi daun tersusun atas tiga  sistem jaringan: epidermis, mesofil dan jaringan pembuluh.
1 Epidermis
Pada umumnya epidermis hanya tersusun selapis sel, kecuali daun beberapa jenis tumbuhan yang mempunyai daun berepidermis ganda (multiple epidermis), misalnya genus Ficus, Nerium dan Piper. Epidermis ganda ini mungkin berfungsi untuk mencegah agar mesofil tidak mengalami kekeringan.. Struktur daun yang biasanya pipih itu, dibedakan antara jaringan epidermis kedua permukaannya, permukaan daun yang lebih dekat dengan ruas di atasnya dan yang biasanya menghadap ke atas dinamakan permukaan adaksial dan permukaan yang lain disebut permukaan abaksial. Dinding permukaan epidermis kadang-kadang mengandumg kloproplas, umumnya mengandung kutin, lapisan kutin yang menghadap keluar disebut kutikula. Kutikula tebalnya berbeda-beda, pada tumbuhan xerofit sangat tebal.
2. Stomata.
Merupakan celah pada epidermis organ tumbuhan yang berwarna hijau, terutama pada permukaan sebelah bawah yang dibatasi oleh dua sel penutup. Di dalam sel penutup terdapat kloroplas yang berfungsi dalam proses fotosintesa . Sel penutup mempunyai bentuk yang berbeda dengan sel epidermis disekitarnya. Ada dua macam sel penutup yaitu berbentuk halter dan ginjal.
Fungsi stomata antara lain sebagai pengatur penguapan, pengatur masuknya CO2 dari udara dan O2 ke udara selama berlangsungnya proses fotosintesa dan pada arah sebaliknya dalam proses respirasi.
Stomata diketemukan pada daun yang berfotosintesis, di kedua permukaan daunnya, atau hanya di permukaan sebelah bawah. Pada tumbuhan air seperti Nympiaea, stomata hanya diketemukan dipermukaan daun sebelah atas yang berhubungan dengan atmosfir. Pada daun yang pertulangannya menjala, stomata menyebar tidak teratur, sedangkan pada daun yang sebagian besar pertulangannya sejajar, seprti pada Graminaeae, stomata tersusun dalam barisan sejajar  Kebanyakan tumbuhan tinggi mempunyai stomata di kedua permukaan daunnya, maka disebut daun amfistomatus, tetapi banyak juga yang mempunyai stomata pada salah satu permukaan daunnya, umumnya di permukaan abaksial disebut daun hipostomatis . Apabila stomata dijumpai dipermukaan adaksial disebut daun epistomatus. Letak stomata dapat sejajar dengan permukaan daun disebut faneropor, sedangkan yang muncul diatas atau lebih rendah dari permukaan daun dinamai kriptopor.
3. Trikomata,
Epidermis daun juga kadang-kadang dijumpai trikomata ( yang bergladula atau
yang    tidak berglandula ), sel kipas , litokis dll. Di bawah epidermis mungkin
dijumpai  jaringan hypodermis (moltipel epidermis).
4. Mesofil
Banyak tumbuhan –tumbuhan pada daerah mesofilnya dapat dibedakan dua macam jenis parenkim , yaitu  parenkim palisade ( jaringan tiang ) dan parenkim bunga karang.  Sel – sel parenkim palisade mempunyai ciri khas adalah memanjang dan pada irisan melintang daun bentuknya seperti tongkat dan tersusun sejajar. Pada irisan paralel dengan permukaan daun tersebut tampaknya membulat dan terpisah-pisah atau sedikit menempel sesamanya . Sel-sel palisade terletak langsung di bawah epidermis sebaris atau ganda , namun kadang-kadang ada jaringan hypodermis diantara epidermis dan jaringan palisade. Susunan sel-sel palisade dapat satu lapisan atau lebih . Mempunyai parenkim palisade di kedua sisinya maka disebut bersifat isolateral atau isobilateral, sedangkan daun yang mempunyai /memiliki parenkim palisade di satu sisi disebut bersifat dorsiventral atau bifasial. Pada daun yang berbentuk silendris jaringan palisade terdapat diseluruh permukaan pesifer daun. Selain parenkim palisade juga terdapat sel-sel parenkim bunga karang , dengan bentuk beragam berisi kloroplas mempunyai ruang antar sel yang besar.
Daun beberapa jenis tumbuhan misalnya rumput-rumputan , mesofilnya tidak mengalami difrensiasi jaringan tiang dan jaringan bunga karang, tetapi tersusun oleh sel-sel parenkim yang kurang lebih seragam bentuk dan ukurannya. Hanya sel-sel yang mengelilingi berkas pengangkutan ,morfologinya berbeda dari mesofil lainnya, yaitu lebih besar, kloroplasnya lebih sedikit dan didingnya lebih tebal. Sel-sel ini menyusun sarung ( seludang berkas ) berkas pengkutan . Daun dengan berkas pengangkut berseludang demikian disebut tipe panekoid. Sarung berkas pegangkut ini kadang-kadang melebar sampai di kedua permukaan daun. Ada yang menganggap jaringan sebagai endodermis ( karena sering dijumpai pita caspary ). , atau sebagai sarung tepung. Pada daun tumbuhan Gramineae yang lain dan juga umum dijumpai pada tumbuhan Dikotylodeneae, berkas pengangkut diselubungi oleh 2 lapis atau lebih selubungnya yang terdiri dari sel-sel berdinding tebal dan tidak berkloroplas. . Daun dengan berkas pengangkut berseludang demikian disebut tipe festikoid .
5. Jaringan pengangkutan
Berkas pembuluh tunggal atau beberapa sel yang erat hubungannya membentuk tulang daun. Istilah tulang terkadang digunakan untuk mencakup jaringan pembuluh bersanma-sama jaringan bukan pembuluh yang mengelilinginya . Daun kebanyakan tumbuhan Dicotyledoneae yang lebih kecil membentuk anyaman seperti jala. Sedang daun tumbuhan Monocotyledoneae mempunyai daun sejajar , dengan tulang-tulang yang kurang lebih sama besar dan masing-masing duhubungkan dengan berkas pengangkut kecil. Tipe berkas vaskuler pada daun sesuai dengan tipe berkas vaskuler batangnya, tetrutama pada ibu tulang daun, tetapi pada vena anak tulang daun dijumpai berkas vaskuler yang tidak sempurna, yang hanya terdiri atas fluem saja atau unsur xilem saja.
Jaringan mekanik pada daun dijumpai jaringan berupa kolenkim, sklerenkim dan sklerida. Kolenkim terdapat pada sisi adaksial dan abaksial setiap berkas vaskuler . Pada tulang daun dan anak tualang daun sklerenkim terdapat pada sisi adaksial dan abaksial atau mengelilingi berkas vaskuler. Sklerida tersebar pada mesofil. Idioblas dapat dijumpai pada daerah mesofil , dapat berupa sel / ruang atau kelenjar minyak, sel hars, sel lendir, sel kristal.
Anatomi Daun Tumbuhan C4.
Sejalan dengan perbedaannya secara biokimia , tumbuhan C4 berbeda dengan tumbuhan C3 pada anatomi daunnya. .Umumnya daun tumbuhan C4 dapat dibedakan karena memiliki ruang antar sel yang kecil-kecil , vena yang rapat dan sel-sel ikatan pembuluhnya besar-besar dan banyak berisi kloroplas. Pada tumbuhan C3  kloroplas terdapat dalam semua sel mesofil , yang masing-masing berisi enzim –enzim fotosintesis yang memiliki gugus tambahan yang sama dan secara bebas mungikat sebagian karbon dioksida yang berdifusi ke dalam daun. Pada tanaman C3 seludang berkasnya  terdapat dua dilapisan  yang melingkar , lapisan luar terbentuk dari sel parenkim yang berdiding tipis dan lapisan terdiri dalam terbentuk dari sel parenkim yang banyak mengandung pati  tidak melingkari berkas seludang,   Sebaliknya pada tumbuhan C4 ada dua tipe sel fotosintesis , sel-sel ikatan pembuluh yang besar-besar di sekitar vena dan sel-sel mesofil disekitar ikatan pembuluh.
Pertanyaan
1. Sebutkan  struktur anatomi batang dari luar ( peripir )  sampai kedalam ( meduler ) lengkapi sampai sel / jaringan yang ada pada masing-masing daerah.?
2. Sebutkan sel/ jaringan yang terdapat pada struktur anatomi daun ?
Pustaka
1. Fanh , A..1991. Anatomi tumbuhan Edisi Ketiga diterjemahkan oleh Ahmad
Sudiarto dkk .  Gadjah Mada University Press
2. Loveles,. A.R. 1987. Prinsip -prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah
Tropik 1.  Gramedia , Jakarta
3. Raven, P.H , R.F. Evert , S.E. Eichhorn . 1992. Biology of Plants. Fifth
Edition. Worth Publishers, 33 Irving place New York .

STRUKTUR DAN FUNGSI  ORGAN TANAMAN.
BATANG.Struktur dari anatomi pada batang , mempunyai tiga bagian pokok,.yaitu
1 ) Epidermis dan derivatnya , 2 ) Kortek, 3) Stele.
1. Epidermis dan Derivatnya .  Jaringan epidermis terdiri dari selapis sel yang berbentuk  persegi, sering dilapisi kutikula. Sel epidermis dijumpai pada batang yang masih muda , bila telah rusak maka fungsi sel epidermis diambi alih oleh periderm ( hipodermis ) . Pada batang yang mampu berfotosintesa dijumpai stomata, yang kelak berkembang mejadi lenti sel, sedang  batang yang masih muda dijumpai trikomata ( glan duler maupun non glanduler ). Pada batang beberapa tumbuhan dijumpai pula sel silica, sel gabus.
2. Kortek .Terutama tersusun dari jaringan parenkim yang merupakan jaringan dasar. Didaerah peripir ( pinggir ) kadang-kadang terdapat kolenkim yang berkelompok atau membentuk lingkaran tertutup. Jaringan sklerenkim dapat berupa serabut yang berkelompok dan skelerida yang soliter. Sel-sel kortek dapat berisi tepung, kristal atau zat lainnya. Pada daerah kortek dijumpai idioblas dapat berupa sel minyak, ruang lender, sel lender, sel kristal , kelenjar minyak, sel hars, saluran gom, saluran lender.Bagian kortek paling dalam disebut endodermis atau fluoterma atau sarung tepung, disebut denmikian karena terdiri atas selapis sel yang membentuk lingkaran dan berisis tepung. Endodermis pada batang yang telah dewasa ( tua ) tidak tampak lagi karena telah  rusak / mati, senbab oleh jaringan lain dari daerah stele. 3. Stele.      Merupakan daerah terdalam dari daerah endodermis , yang tersusun terutama oleh           perikambium , parenkim dan berkas vaskuler ( pengangkutan ) yang terdidri dari  xilem dan fluem. Fungsi xilem  adalah mengangkut bahan mineral dan air dari akar sampai ke daun. Fluem berfungsi mengangkut hasil asimilasi dari daun ke tempat-tempat penyimpan makanan cadangan dan bagian tubuh lainnya.    4. Empulur dan jari-jari empulur. Bagian batang paling dalam , berkas pengangkutan tidak tersusun padat tetapi ada bangunan jaringan dasar diantaranya , yang disebut dengan empulur . Pada tumbuhan Monokotyledoneae, tidak dibedakan antara kortek dengan empulur, sehingga disebut jaringan  dasar.    Struktur normal dan anomali Struktur batang yang normal yaitu : yang mempunyai satu lingkaran berkas pengangkut ( yang telah dibicarakan ). Pada tumbuhan tertentu dijumpai struktur yang tidak normal, yang disebut dengan stuktur anomali, sehinga dijumpai bentuk batang yang aneh atau bentuk batang normal tetapi mempunyai dua lingkaran berkas vaskuler ( pengangkutan ) . Satu lingkaran berkas vaskuler berada didaerah stele dan yang satu lengkaran berkas vaskuler berada didaerah kortek.  STRUKTUR ANATOMI AKAR Berbeda dengan batang, pada akar tidak dijumpai bentukan buku dan ruas maupun daun, sehingga susunan jaringan-jaringan  di bagian akar yang berlainan relatip berubah. Xilem dan fluem pada akar tidak membentuk satu berkas melainkan tersusun berselang –seling tipe berkas vaskulernya adalah radial. Tipe berkas vaskuler pada batang kolateral, bikolateral atau amfivasa. Pada penampang melintang akar primer dijumpai tiga sistem jaringan pokok, yaitu epidermis , kortek dan stele . Diujung –ujung akar terdapat pula bagian bagian akar yang lain yaitu tudung akar yang berfungsi untuk melindungi promeristem akar.
1. Epidermis.               Epidermis hanya dijumpai pada akar yang masih muda, apabila epidermis akar telah rusak, maka fungsi epidermis pada akar diambil alih fungsinya oleh eksodermis. Epidermis akar juga disebut epiblem atau rizodermis . Epidermis akar tidak dilapisi kutikula karena fungsi akar pengisap air.  Derivat epidermis pada akar.  Rambut- rambut pada akar. Rambut-rambut pada akar yang dibentuk oleh trikoblas yang berfungsi untuk memperkuat bidang penyerapan air dan usur-unsur hara. Pnematoda . Terdapat pada akar napas Rizopor ( bakau ) yang berfungsi seperti lenti sel pada batang.  2. Kortek.Terutama tersusun  oleh parenkim sebagai jaringan dasar yang berfungsi sebagai jaringan penyimpan makanan cadangan . Jaringan penguat yang terdapat adalah sklelenkim, Idioblas dapat berupa sel / ruang minyak, sel /jaringan lendir, sel kristal , saluran resin ( damar). Kadang-kadang dijumpai antar sel yang terjadi secara sizogen atau lizigen, Bagian kortek yang terdalam berupa endodermis tersusun selapis sel yang melingkar,  sel- sel tersebut  ada   yang mengalami penebalan dinding berupa suberin  juga ada  tidak mengalami penebalan dinding . Sel yang tidak mengalami penebalan dinding disebut sel peresap.
3. Stele. Perisikel juga disebut  perikambium, merupakan jaringan terluar dari stele yang terdiri atas selapis sel yang membentuk lingkaran atau berlapis-lapis dalam lingkaran hal ini biasanya dijumpai pada tumbuhan yang tergolong Monokotil.Kadang pada stele dijumpai sel minyak dan serabut sklerenkim. Di bagian tengah akar, kadang-kadang dijumpai empulur yang tersusun oleh                    parenkim. Idioblas dapat dijumpai didaerah empulur atau didaerah fluem, jenisnya sama dengan seperti yang terdapat didaerah kortek
STRUKTUR   ANATOMI DAUN
Secara morfologi dan anatomi daun itu merupakan organ tumbuhan yang paling bervariasi. Secara histologi daun tersusun atas tiga  sistem jaringan: epidermis, mesofil dan jaringan pembuluh.
1 Epidermis  Pada umumnya epidermis hanya tersusun selapis sel, kecuali daun beberapa jenis tumbuhan yang mempunyai daun berepidermis ganda (multiple epidermis), misalnya genus Ficus, Nerium dan Piper. Epidermis ganda ini mungkin berfungsi untuk mencegah agar mesofil tidak mengalami kekeringan.. Struktur daun yang biasanya pipih itu, dibedakan antara jaringan epidermis kedua permukaannya, permukaan daun yang lebih dekat dengan ruas di atasnya dan yang biasanya menghadap ke atas dinamakan permukaan adaksial dan permukaan yang lain disebut permukaan abaksial. Dinding permukaan epidermis kadang-kadang mengandumg kloproplas, umumnya mengandung kutin, lapisan kutin yang menghadap keluar disebut kutikula. Kutikula tebalnya berbeda-beda, pada tumbuhan xerofit sangat tebal.2. Stomata. Merupakan celah pada epidermis organ tumbuhan yang berwarna hijau, terutama pada permukaan sebelah bawah yang dibatasi oleh dua sel penutup. Di dalam sel penutup terdapat kloroplas yang berfungsi dalam proses fotosintesa . Sel penutup mempunyai bentuk yang berbeda dengan sel epidermis disekitarnya. Ada dua macam sel penutup yaitu berbentuk halter dan ginjal. Fungsi stomata antara lain sebagai pengatur penguapan, pengatur masuknya CO2 dari udara dan O2 ke udara selama berlangsungnya proses fotosintesa dan pada arah sebaliknya dalam proses respirasi.      Stomata diketemukan pada daun yang berfotosintesis, di kedua permukaan daunnya, atau hanya di permukaan sebelah bawah. Pada tumbuhan air seperti Nympiaea, stomata hanya diketemukan dipermukaan daun sebelah atas yang berhubungan dengan atmosfir. Pada daun yang pertulangannya menjala, stomata menyebar tidak teratur, sedangkan pada daun yang sebagian besar pertulangannya sejajar, seprti pada Graminaeae, stomata tersusun dalam barisan sejajar  Kebanyakan tumbuhan tinggi mempunyai stomata di kedua permukaan daunnya, maka disebut daun amfistomatus, tetapi banyak juga yang mempunyai stomata pada salah satu permukaan daunnya, umumnya di permukaan abaksial disebut daun hipostomatis . Apabila stomata dijumpai dipermukaan adaksial disebut daun epistomatus. Letak stomata dapat sejajar dengan permukaan daun disebut faneropor, sedangkan yang muncul diatas atau lebih rendah dari permukaan daun dinamai kriptopor.3. Trikomata,       Epidermis daun juga kadang-kadang dijumpai trikomata ( yang bergladula atau        yang    tidak berglandula ), sel kipas , litokis dll. Di bawah epidermis mungkin  dijumpai  jaringan hypodermis (moltipel epidermis).
4. Mesofil       Banyak tumbuhan –tumbuhan pada daerah mesofilnya dapat dibedakan dua macam jenis parenkim , yaitu  parenkim palisade ( jaringan tiang ) dan parenkim bunga karang.  Sel – sel parenkim palisade mempunyai ciri khas adalah memanjang dan pada irisan melintang daun bentuknya seperti tongkat dan tersusun sejajar. Pada irisan paralel dengan permukaan daun tersebut tampaknya membulat dan terpisah-pisah atau sedikit menempel sesamanya . Sel-sel palisade terletak langsung di bawah epidermis sebaris atau ganda , namun kadang-kadang ada jaringan hypodermis diantara epidermis dan jaringan palisade. Susunan sel-sel palisade dapat satu lapisan atau lebih . Mempunyai parenkim palisade di kedua sisinya maka disebut bersifat isolateral atau isobilateral, sedangkan daun yang mempunyai /memiliki parenkim palisade di satu sisi disebut bersifat dorsiventral atau bifasial. Pada daun yang berbentuk silendris jaringan palisade terdapat diseluruh permukaan pesifer daun. Selain parenkim palisade juga terdapat sel-sel parenkim bunga karang , dengan bentuk beragam berisi kloroplas mempunyai ruang antar sel yang besar.Daun beberapa jenis tumbuhan misalnya rumput-rumputan , mesofilnya tidak mengalami difrensiasi jaringan tiang dan jaringan bunga karang, tetapi tersusun oleh sel-sel parenkim yang kurang lebih seragam bentuk dan ukurannya. Hanya sel-sel yang mengelilingi berkas pengangkutan ,morfologinya berbeda dari mesofil lainnya, yaitu lebih besar, kloroplasnya lebih sedikit dan didingnya lebih tebal. Sel-sel ini menyusun sarung ( seludang berkas ) berkas pengkutan . Daun dengan berkas pengangkut berseludang demikian disebut tipe panekoid. Sarung berkas pegangkut ini kadang-kadang melebar sampai di kedua permukaan daun. Ada yang menganggap jaringan sebagai endodermis ( karena sering dijumpai pita caspary ). , atau sebagai sarung tepung. Pada daun tumbuhan Gramineae yang lain dan juga umum dijumpai pada tumbuhan Dikotylodeneae, berkas pengangkut diselubungi oleh 2 lapis atau lebih selubungnya yang terdiri dari sel-sel berdinding tebal dan tidak berkloroplas. . Daun dengan berkas pengangkut berseludang demikian disebut tipe festikoid .
5. Jaringan pengangkutan   Berkas pembuluh tunggal atau beberapa sel yang erat hubungannya membentuk tulang daun. Istilah tulang terkadang digunakan untuk mencakup jaringan pembuluh bersanma-sama jaringan bukan pembuluh yang mengelilinginya . Daun kebanyakan tumbuhan Dicotyledoneae yang lebih kecil membentuk anyaman seperti jala. Sedang daun tumbuhan Monocotyledoneae mempunyai daun sejajar , dengan tulang-tulang yang kurang lebih sama besar dan masing-masing duhubungkan dengan berkas pengangkut kecil. Tipe berkas vaskuler pada daun sesuai dengan tipe berkas vaskuler batangnya, tetrutama pada ibu tulang daun, tetapi pada vena anak tulang daun dijumpai berkas vaskuler yang tidak sempurna, yang hanya terdiri atas fluem saja atau unsur xilem saja. Jaringan mekanik pada daun dijumpai jaringan berupa kolenkim, sklerenkim dan sklerida. Kolenkim terdapat pada sisi adaksial dan abaksial setiap berkas vaskuler . Pada tulang daun dan anak tualang daun sklerenkim terdapat pada sisi adaksial dan abaksial atau mengelilingi berkas vaskuler. Sklerida tersebar pada mesofil. Idioblas dapat dijumpai pada daerah mesofil , dapat berupa sel / ruang atau kelenjar minyak, sel hars, sel lendir, sel kristal.
Anatomi Daun Tumbuhan C4.Sejalan dengan perbedaannya secara biokimia , tumbuhan C4 berbeda dengan tumbuhan C3 pada anatomi daunnya. .Umumnya daun tumbuhan C4 dapat dibedakan karena memiliki ruang antar sel yang kecil-kecil , vena yang rapat dan sel-sel ikatan pembuluhnya besar-besar dan banyak berisi kloroplas. Pada tumbuhan C3  kloroplas terdapat dalam semua sel mesofil , yang masing-masing berisi enzim –enzim fotosintesis yang memiliki gugus tambahan yang sama dan secara bebas mungikat sebagian karbon dioksida yang berdifusi ke dalam daun. Pada tanaman C3 seludang berkasnya  terdapat dua dilapisan  yang melingkar , lapisan luar terbentuk dari sel parenkim yang berdiding tipis dan lapisan terdiri dalam terbentuk dari sel parenkim yang banyak mengandung pati  tidak melingkari berkas seludang,   Sebaliknya pada tumbuhan C4 ada dua tipe sel fotosintesis , sel-sel ikatan pembuluh yang besar-besar di sekitar vena dan sel-sel mesofil disekitar ikatan pembuluh.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Biosistematika

Dalam mempelajari Biosistematika ada 4 hal penting yang perlu diketahui. Keempat hal itu yaitu: pengenalan, pertelaan, penggolongan, pengkajian kekerabatan.

Pengenalan, merupakan penentuan atau pendeterminasian semua jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia. Untuk keperluan ini biasanya para ahli melakukan hal: menciptakan sistem tata nama yang universal, menyusun berbagai macam kunci determinasi, menghimpun koleksi specimen acuan dll.

Pertelaan merupakan penyajian data yang lengkap dan teratur.  Penyajian data ini dapat merupakan suatu karangan seperti: monografi suku kangkung-kangkungan (Convolvulaceae), flora pulau jawa, revisi marga Durio, siklopedia tumbuh-tumbuhan ekonomi, buku pangan tentang sifat-sifat semai atau penyerbukan dan pembuahan, pertelaan tanaman yang baik untuk sayur atau tanaman hias, daftar tanaman penghasil minyak atsiri dll.

Klasifikasi merupakan pengelompokan berdasarkan kesamaan sifat ciri yang dimiliki oleh suatu organisme. Sistem klasifikasi yang tersusun hendaknya dapat mencerminkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan atau dengan memata-matai jalan bekerjanya evolusi, yang juga merupakan hal yang keempat yang perlu diketahui

Dalam melakukan tahap pengenalan maka kita hendaknya mengetahui sifat ciri suatu organisma. Sifat ciri mengacu pada bentuk, susunan, kelakuan tumbuhan yang dapat digunakan untuk membanding, mendeterminasi, menginterpretasi atau memisahkan suatu tumbuhan dari yang lainnya. Sifat ciri yang dapat digunakan sebagai bukti taksonomi adalah morfologi, anatomi, sitologi, embriologi, fisiologi, fitokimia, dsb.

Morfologi

Ciri morfologi sering digunakan karena sifat ciri ini begitu banyak, mudah terlihat jika dibandingkan sifat ciri lainnya.

Misalnya:

–          Tinggi pohon 5 meter atau 70 meter

–          Pinggir daun mungkin rata, beringgit, bercangap atau lainnya lagi.

–          Bentuk daun jantung sungsang, bulu kasar

–          Warna tajuk/ mahkota lembayung atau kuning.

Anatomi

Ciri anatomi digunakan untuk memperkuat ciri morfologi atau bila secara morfologi suatu jenis masih meragukan maka digunakan ciri anatomi.

Misalnya:

–          bentuk dan kerapatan stomata.

–          Bentuk sel epidermis.

–          Jumlah lapisan palisade.

–          Lapisan kutikula

–          Trikoma

–          Tipe ikatan pembuluh.

Contoh pada anggrek Rananthera coccinea sebetulnya ada dua kelompok yang berbeda secara morfologi daun, tetapi dari morfologi bunga sulit dibedakan. Hasil pengamatan anatomi daun maka kedua kelompok dapat dibedakan pada tingkat varietas.

SITOLOGI

Sitologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk sel. Dalam botani sistematika biasa diberi pengertian sempit yaitu hanya meliputi bahan inti saja. Khususnya bentuk dan jumlah kromosom serta kelakuan kromosom pada meiosis. Untuk bukti taksonomi biasanya dibandingkan kariotipe, yaitu keadaan kromosom pada tingkat metafase daripada proses mitosis yang meliputi: sifat-sifat panjang kromosom, letak sentromer, ada tidaknya satelit dan jumlah kromosom.

Ukuran kromosom mantap untuk masing-masing jenis. Pada monokotil ukurannya lebih besar daripada dikotil. Sedangkan tumbuhan berkayu mempunyai ukuran kromosom yang lebih kecil dari pada tumbuhan terna sekerabat.

Jumlah kromosom semua individu dalam satu jenis umumnya sama kecuali pada jenis jenis tertentu. Sampai sekarang kira-kira baru 10 % dari seluruh tumbuhan yang ada yang sudah diperiksa secara sitologi. Jumlah kromosom bervariasidari n (jumlah haploid atau jumlah satu set kromosom) = 2 untuk Haplopappus gracilis (Compositae/Asteraceae) sampai n = 631 Ophioglosum reticulatum (tumbuhan paku).

Secar garis besar terdapat tiga macam jumlah kromosom:

  1. Jumlah kromosom yang sama untuk seluruh anggota golongan

Contoh : Pinus n = 12.

  1. Adanya kelipatan jumlah kromosom sehingga terjadi deret poliploid

Contoh:  Taraxacum (Compositae) 2n = 16, 24, 32, 40, 48. Dalam deret ini 8 merupakan kromosom dasar yang ditandai dengan x. Pada Dryopteris jenis jenis yang ada merupakan kelipatan jumlah dasar kromosom gamet (x = 41) : 82, 123, 164.

  1. Jumlah kromosom yang tidak beraturan, bisa bertambah atau berkurang satu demi satu jika dibanding jumlah dasar haploidnya disebut aneuploid.

Contoh: Clarkia. Pada kelompok ini bisa decending seri dari 6-5 sedangkan 6-7-8-9 adalah ascending seri. Pada contoh ini 6 adalah kromosom dasar.

Beberapa perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur tumbuhan dari ciri morfologi, anatomi dll dari tingkat Schizophyta s.d. Spermatophyta sebagai berikut:

Organisme

Ciri

Shizophyta

Thallophyta Bryophyta Pteridophyta Spermatophyta

Tubuh

Jml sel penyusun tubuh

Difrensiasi sel

Alat perkembangbiakan (calon individu baru)

Pergiliran keturunan

Akar

Batang

Daun

Bunga

Buah

Biji

Talus

Ekaseluler

Belum jelas adanya inti dan plastida

Aseksual

Belum ada

Talus

ekaseluler→

multiselular

inti jelas, plastida beraneka ragam / tdk ada

aseksual dan seksual

sebagian, belum ada, sebagian sudah

rizoid

sumbu talus

tanpa berkas pembuluh pengangkutan

Peralihan talus→kormus

multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

rizoid

ada semacam batang

ada berkas sel-sel memanjang

ada “semacam” daun-daun

belum ada mesofil

Kormus

multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

akar yg tdk keluar dr kutub akar

ada

ada berkas pebuluh pengangkutan

ada

kumpulan sporofil

ada yg punya

Kormus

Multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

akar keluar dr kutub akar

ada

ada berkas pebuluh pengangkutan

ada

strobilus, bunga ada

ada

ada

Divisi Tumbuhan Spermatophyta dibedakan menjadi 2 anak divisi yaitu Tumbuhan berbiji terbuka dan tumbuhan berbiji tertutup

Tumbuhan

Ciri

Tumbuhan biji terbuka Tumbuhan biji Tertutup

Habitus

Batang

daun

bunga

Penyerbukan

Sel kelamin

Jantan

Anatomi

Semak, perdu atau pohon

Tegak lurus, bercabang-cabang

jarang berdaun lebar. jarang bersifat majemuk

sistem pertulangan tidak banyak ragamnya

bunga sesungguhnya belum ada, sporofil terpisah-pisah atau membentuk strobilus ♀ dan ♂

makrosporofil (daun buah) dengan bakal biji (makrosporangium yg tampak menempel padanya

makro dan mikrosporofil terpisah

anemogami

serbuk sari jatuh pd bakal biji

jarak waktu dr penyerbukan→pembuahan panjang

berupa spermatozoid yg masih bergerak aktif

akar, batang berkambium.

selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder.

Berkas pembuluh pengangkut kolateral terbuka

Xilem terdiri atas trakeida saja

Floem tanpa sel-sel pengiring

Terna, semak ,perdu, pohon

Bermacam-macam, bercabang-cabang, atau tidak

Tunggal atau majemuk dengan komposisi yg beraneka ragam

Beraneka sistem pertulangan

Bunga ada. Tersusun dari sporofil plus bagian-bagian yg lain

Makrosporofil (daun buah) membentuk badan yg disebut putik dengan bakal biji di dalamnya (tidak tampak)

Mak ro dan mikrosporofil (benang sari) terpisah atau terkumpul pada satu bunga

Autogami, anemogami, hidrogami, zoidiogami

Serbuk sari jatuh pada bakal putik

jarak waktu dr penyerbukan→pembuahan pendek

berupa inti sperma (inti generatif) yg tdk bergerak aktif

ada yg berkambium, ada yg tdk

ada yg menebal sekunder, ada yg tdk

berkas pembuluh pengangkut ada yg kolateral terbuka, kolateral tertutup, ada yg bikolateral

xilem terdiri atas trakea dan trakeida

floem dg sel-sel pengiring

Salah satu contoh tentang penelitian biosistematik: kajian kultivar salak bali “Salacca zalacca varietas amboinense (Becc.) Mogea.”

Berdasarkan tinggi tanaman, rangkaian daun, jumlah duri, karakter buah yang meliputi: warna sisik atau kulit buah, warna, aroma, dan rasa daging buah petani salak Sibetan membedakan salak Bali menjadi 12 macam nama salak yaitu:

  1. Salak ‘Nanas’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah yang putih kekuningan dan rasa buahnya manis seperti nanas.
  2. Salak ‘Nangka’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, rasa        buah manis harum seperti buah nangka.
  3. Salak ‘Maong’: Kulit buah coklat kemerahan dengan bercak-bercak putih yang oleh  petani salak disebut “maong” atau jamuran. Daging buah putih kekuningan, rasa       manis.
  4. Salak ‘Putih’: Kulit buah putih, daging buah putih kekuningan, oleh penduduk sering disebut salak “toris” yaitu orang asing yang mempunyai kulit bule atau salak       “mangku” yaitu seorang rohanian Hindu yang memakai pakaian adat putih.
    1. Salak ‘Gula pasir’: Kulit buah coklat kehitaman, daging buah putih, rasanya manis seperti gula pasir.
    2. Salak ‘Gondok’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, bau buah harum seperti bunga “gondok” atau bunga cempaka.
    3. Salak ‘Sepet’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, rasa sepet.
    4. Salak ‘Boni’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah merah seperti buah “boni” (Antidesma bunius Spreng) yang masak. Salak ini juga diberi nama salak “getih” (darah) karena daging buah yang merah.
    5. Salak ‘Cengkeh’: Kulit buah warna coklat kemerahan, daging buah warna putih kekuningan dan agak keras, rasa seperti cengkeh.

10.  Salak ‘Nyuh’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kekuningan. Jumlah duri sedikit, salak “nyuh” mempunyai pelepah daun seperti pohon “nyuh” atau pohon kelapa.

11.  Salak ‘Pada’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kekuningan. Tinggi tanaman yaitu 1 – 1,5 m sehingga sering pula disebut salak ‘Kate’. Panjang daun hampir sama satu dengan lainnya, oleh penduduk disebut “pada”. Panjang tangkai daun 0,5 – 1 m.

12.  Salak ‘Injin’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kehitam-hitaman seperti “injin” atau beras ketan hitam.

Tabel  Ciri morfologi salak Bali

Ciri Nama Salak
Nns Ngk Mao Pth Gpr Gdk Spt Bon Ckh Nyh Pad Ijn
1. Tinggi tanaman

a. 1 –1,5 m

b. 4 – 7 m

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

2. Panjang daun

a. 0,5 – 1m

b. 4 – 6 m

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

3. Panjang anak daun

a. 30 – 35 cm

b. 40 – 73 cm

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

4. Jumlah duri pada

tangkai daun

a. 38 – 60 duri

b. 70 – 138 duri

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

5. Duri halus pada

bagian adaksial

a. tidak ada

Ad      b. ada

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

6. Kulit buah

a. putih

b. Merah kecoklatan

dengan bercak putih

c. Merah kecoklatan

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

7. Daging buah

a. Merah

b. putih

c. putih dengan garis

hitam

d. putih kekuningan

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

8. Rasa daging buah

a. Manis seperti gula

b. Manis

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Keterangan: Nns =  ‘Nanas’. Ngk = ‘Nangka’. Mao = ‘Maong’. Pth = ‘Putih’. Gpr = ‘Gula pasir’.     Gdk = ‘Gondok’.

Spt = ‘Sepet’. Bon = ‘Boni’. Ckh = ‘Cengkeh’. Nyh = ‘Nyuh’. Pad = ‘Pada’. Ijn = ‘Injin’

+ = Ciri tersebut terdapat pada salak yang bersangkutan

– = Ciri tersebut tidak terdapat pada salak yang bersangkutan.

Tabel  Data matriks ciri morfologi salak Bali

No Nama Salak Ciri Morfologi atau Nilai
A1 A2 B1 B2 C1 C2 D1 D2 E1 E2 F1 F2 F3 G1 G2 G3 G4 H1 H2
1. ’Nanas’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
2. ’Nangka’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
3. ’Maong’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1   0 0    0    0    1 0    1
4. ‘Putih’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 1   0   0 0    0    0    1 0    1
5. ’Gula pasir’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    1    0    0 1    0
6. ’Gondok’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
7. ’Sepet’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
8. ’Boni’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 1    0    0    0 0    1
9. ’Cengkeh’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
10. ’Nyuh’ 0   1 0   1 0   1 1   0 1   0 0   0   1 0    0    0    1 0    1
11. ’Pada’ 1   0 1   0 1   0 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
12. ’Injin’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    1    0 0    1

Keterangan:

A1 A2 = tinggi perawakan 1 – 1,5 m & 4 – 7 m,  B1 B2 = panjang daun 0,5 – 1 m & 4 – 6 m,  C1 C2 = panjang helai daun 0,30 – 0,35 m & 0,40 – 0,73 m,  D1 D2 = jumlah duri pada tangkai daun 38 – 60 & 70 – 138  ,  E1 E2 = ada tidaknya duri pada adaksial tangkai daun,  F1 F2 F3 = warna sisik buah putih; merah kecoklatan dengan bercak putih; merah kecoklatan,  G1 G2 G3 G4 = daging buah salak merah; putih; putih dengan garis hitam; putih kekuningan, H1 H2 = rasa buah salak manis seperti “gula pasir” & manis.

Angka 0 = ciri morfologi tersebut tidak didapatkan pada salak yang bersangkutan.

Angka 1 = ciri morfologi tersebut terdapat pada salak yang bersangkutan.

Gambar pengelompokkan kedua belas kultivar salak bali berdasarkan kesamaan ciri morfologi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

AGLAONEMA : CARA MENYILANGKAN

Daya tarik tanaman hias jenis aglaonema terletak pada keindahan motif daunnya, saat ini sudah banyak sekali jenis aglaonema varian baru hasil penyilangan. Yang paling fenomenal adalah Pride of Sumatera hasil penyilangan oleh Greg Hambali yang pernah meraih medali emas di ajang lomba tanaman hias internasional di Belanda Floriade tahun 2002.

Sebenarnya kita bisa melakukan penyilangan sendiri dan ternyata tidak sulit untuk dilakukan, siapa tahu kita bisa menghasilkan aglaonema yang unik, langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut :

1.Syarat utama adalah harus ada induk jantan dan induk betina. Ketika bunga-bunga aglaonema mulai bermekaran, pilihlah aglaonema yang pada tongkol bunga terdapat serbuk sari ( seperti bedak ) dan pilih aglaonema yang siap diserbuki untuk dijadikan induk betinanya.

2.Gunakan kuas yang bersih untuk mengambil serbuk sari, lalu oleskan pada putik yang terdapat pada induk betinanya, Setelah itu, tanaman yang sudah diserbuki dikerudung dengan kantong plastik transparan agar aman dan kelembabannya terjaga.

3.Penyilangan sebaiknya dilakukan di pagi hari antara pukul 07.00-09.00, jika dilakukan di siang hari, biasanya serbuk sari sudah rontok.

4.Jika penyilangan berhasil akan terbentuk buah, satu tongkol aglaonema bisa menghasilkan 10-30 biji, sedangkan seludang bunga lainnya biasanya mengering.

5.Sekitar enam bulan, buah hasil penyilangan bisa dipanen dan diseleksi untuk mendapatkan buah yang siap tanam. Buah yang sehat adalah yang tidak terserang hama dan penyakit, berwarna hijau dan menjadi merah ketika siap di petik. Untuk menanamnya kulit buah harus dikupas, biji yang baik berwarna kecoklatan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jam Piket Organ Tubuh

Jam Piket Organ Tubuh


Zaman sekarang masyarakat sudah super sibuk,jadi setiap orang terkadang lupa dengan kesehatan dalam tubuhnya sendiri…Jadi gw mau sedikit kasih info jadwal kerja organ tubuh kita…Biar anda semua dapat beraktivitas dengan pola hidup yang sehat.

Berikut jadwal kerja organ kita :

LAMBUNG Jam 07.00 – 09.00 Jam piket organ lambung
sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi
tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan
pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap
tubuh.

LIMPA Jam 09.00 – 11.00 Jam piket organ limpa
kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan.
Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi
konsumsi gula, lemak, minyak dan protein hewani.

JANTUNG Jam 11.00 – 13.00 Jam piket organ jantung
kuat, harus
istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama
pada penderita gangguan pembuluh darah.

HATI Jam 13.00 – 15.00 Jam piket organ hati lemah,
bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi
proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh
kuat untuk menangkal semua penyakit.

PARU-PARU Jam 15.00 – 17.00 Jam piket organ
paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan
racun dan proses pembentukan energi paru-paru

GINJAL Jam 17.00 – 19.00 Jam piket organ ginjal
kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses
pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan.

LAMBUNG Jam 19.00 – 21.00 Jam piket organ lambung
lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi makan yang sulit dicerna atau lama
dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

LIMPA Jam 21.00 – 23.00 Jam piket organ limpa
lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel
limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan
jiwa, untuk meningkatkan imunitas.

JANTUNG Jam 23.00 – 01.00 Jam piket organ jantung
lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja
atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.

HATI Jam 01.00 – 03.00 Jam piket organ hati kuat.
Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh.
Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan
mata. Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.

PARU-PARU Jam 03.00 – 05.00 Jam piket organ
paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ
paru-paru, apabila terjadi batuk, bersin-bersin dan berkeringat
menandakan adanya gangguan fungsi
paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan
energi paru yang sehat dan kuat.

USUS BESAR Jam 05.00 – 07.00 Jam piket organ usus
besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar