Biosistematika

Dalam mempelajari Biosistematika ada 4 hal penting yang perlu diketahui. Keempat hal itu yaitu: pengenalan, pertelaan, penggolongan, pengkajian kekerabatan.

Pengenalan, merupakan penentuan atau pendeterminasian semua jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia. Untuk keperluan ini biasanya para ahli melakukan hal: menciptakan sistem tata nama yang universal, menyusun berbagai macam kunci determinasi, menghimpun koleksi specimen acuan dll.

Pertelaan merupakan penyajian data yang lengkap dan teratur.  Penyajian data ini dapat merupakan suatu karangan seperti: monografi suku kangkung-kangkungan (Convolvulaceae), flora pulau jawa, revisi marga Durio, siklopedia tumbuh-tumbuhan ekonomi, buku pangan tentang sifat-sifat semai atau penyerbukan dan pembuahan, pertelaan tanaman yang baik untuk sayur atau tanaman hias, daftar tanaman penghasil minyak atsiri dll.

Klasifikasi merupakan pengelompokan berdasarkan kesamaan sifat ciri yang dimiliki oleh suatu organisme. Sistem klasifikasi yang tersusun hendaknya dapat mencerminkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan atau dengan memata-matai jalan bekerjanya evolusi, yang juga merupakan hal yang keempat yang perlu diketahui

Dalam melakukan tahap pengenalan maka kita hendaknya mengetahui sifat ciri suatu organisma. Sifat ciri mengacu pada bentuk, susunan, kelakuan tumbuhan yang dapat digunakan untuk membanding, mendeterminasi, menginterpretasi atau memisahkan suatu tumbuhan dari yang lainnya. Sifat ciri yang dapat digunakan sebagai bukti taksonomi adalah morfologi, anatomi, sitologi, embriologi, fisiologi, fitokimia, dsb.

Morfologi

Ciri morfologi sering digunakan karena sifat ciri ini begitu banyak, mudah terlihat jika dibandingkan sifat ciri lainnya.

Misalnya:

-          Tinggi pohon 5 meter atau 70 meter

-          Pinggir daun mungkin rata, beringgit, bercangap atau lainnya lagi.

-          Bentuk daun jantung sungsang, bulu kasar

-          Warna tajuk/ mahkota lembayung atau kuning.

Anatomi

Ciri anatomi digunakan untuk memperkuat ciri morfologi atau bila secara morfologi suatu jenis masih meragukan maka digunakan ciri anatomi.

Misalnya:

-          bentuk dan kerapatan stomata.

-          Bentuk sel epidermis.

-          Jumlah lapisan palisade.

-          Lapisan kutikula

-          Trikoma

-          Tipe ikatan pembuluh.

Contoh pada anggrek Rananthera coccinea sebetulnya ada dua kelompok yang berbeda secara morfologi daun, tetapi dari morfologi bunga sulit dibedakan. Hasil pengamatan anatomi daun maka kedua kelompok dapat dibedakan pada tingkat varietas.

SITOLOGI

Sitologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk sel. Dalam botani sistematika biasa diberi pengertian sempit yaitu hanya meliputi bahan inti saja. Khususnya bentuk dan jumlah kromosom serta kelakuan kromosom pada meiosis. Untuk bukti taksonomi biasanya dibandingkan kariotipe, yaitu keadaan kromosom pada tingkat metafase daripada proses mitosis yang meliputi: sifat-sifat panjang kromosom, letak sentromer, ada tidaknya satelit dan jumlah kromosom.

Ukuran kromosom mantap untuk masing-masing jenis. Pada monokotil ukurannya lebih besar daripada dikotil. Sedangkan tumbuhan berkayu mempunyai ukuran kromosom yang lebih kecil dari pada tumbuhan terna sekerabat.

Jumlah kromosom semua individu dalam satu jenis umumnya sama kecuali pada jenis jenis tertentu. Sampai sekarang kira-kira baru 10 % dari seluruh tumbuhan yang ada yang sudah diperiksa secara sitologi. Jumlah kromosom bervariasidari n (jumlah haploid atau jumlah satu set kromosom) = 2 untuk Haplopappus gracilis (Compositae/Asteraceae) sampai n = 631 Ophioglosum reticulatum (tumbuhan paku).

Secar garis besar terdapat tiga macam jumlah kromosom:

  1. Jumlah kromosom yang sama untuk seluruh anggota golongan

Contoh : Pinus n = 12.

  1. Adanya kelipatan jumlah kromosom sehingga terjadi deret poliploid

Contoh:  Taraxacum (Compositae) 2n = 16, 24, 32, 40, 48. Dalam deret ini 8 merupakan kromosom dasar yang ditandai dengan x. Pada Dryopteris jenis jenis yang ada merupakan kelipatan jumlah dasar kromosom gamet (x = 41) : 82, 123, 164.

  1. Jumlah kromosom yang tidak beraturan, bisa bertambah atau berkurang satu demi satu jika dibanding jumlah dasar haploidnya disebut aneuploid.

Contoh: Clarkia. Pada kelompok ini bisa decending seri dari 6-5 sedangkan 6-7-8-9 adalah ascending seri. Pada contoh ini 6 adalah kromosom dasar.

Beberapa perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur tumbuhan dari ciri morfologi, anatomi dll dari tingkat Schizophyta s.d. Spermatophyta sebagai berikut:

Organisme

Ciri

Shizophyta

Thallophyta Bryophyta Pteridophyta Spermatophyta

Tubuh

Jml sel penyusun tubuh

Difrensiasi sel

Alat perkembangbiakan (calon individu baru)

Pergiliran keturunan

Akar

Batang

Daun

Bunga

Buah

Biji

Talus

Ekaseluler

Belum jelas adanya inti dan plastida

Aseksual

Belum ada

-

-

-

-

-

-

Talus

ekaseluler→

multiselular

inti jelas, plastida beraneka ragam / tdk ada

aseksual dan seksual

sebagian, belum ada, sebagian sudah

rizoid

sumbu talus

tanpa berkas pembuluh pengangkutan

-

-

-

-

Peralihan talus→kormus

multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

rizoid

ada semacam batang

ada berkas sel-sel memanjang

ada “semacam” daun-daun

belum ada mesofil

-

-

-

Kormus

multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

akar yg tdk keluar dr kutub akar

ada

ada berkas pebuluh pengangkutan

ada

kumpulan sporofil

-

ada yg punya

Kormus

Multiselular

Inti dan plastida jelas

aseksual dan seksual

ada

akar keluar dr kutub akar

ada

ada berkas pebuluh pengangkutan

ada

strobilus, bunga ada

ada

ada

Divisi Tumbuhan Spermatophyta dibedakan menjadi 2 anak divisi yaitu Tumbuhan berbiji terbuka dan tumbuhan berbiji tertutup

Tumbuhan

Ciri

Tumbuhan biji terbuka Tumbuhan biji Tertutup

Habitus

Batang

daun

bunga

Penyerbukan

Sel kelamin

Jantan

Anatomi

Semak, perdu atau pohon

Tegak lurus, bercabang-cabang

jarang berdaun lebar. jarang bersifat majemuk

sistem pertulangan tidak banyak ragamnya

bunga sesungguhnya belum ada, sporofil terpisah-pisah atau membentuk strobilus ♀ dan ♂

makrosporofil (daun buah) dengan bakal biji (makrosporangium yg tampak menempel padanya

makro dan mikrosporofil terpisah

anemogami

serbuk sari jatuh pd bakal biji

jarak waktu dr penyerbukan→pembuahan panjang

berupa spermatozoid yg masih bergerak aktif

akar, batang berkambium.

selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder.

Berkas pembuluh pengangkut kolateral terbuka

Xilem terdiri atas trakeida saja

Floem tanpa sel-sel pengiring

Terna, semak ,perdu, pohon

Bermacam-macam, bercabang-cabang, atau tidak

Tunggal atau majemuk dengan komposisi yg beraneka ragam

Beraneka sistem pertulangan

Bunga ada. Tersusun dari sporofil plus bagian-bagian yg lain

Makrosporofil (daun buah) membentuk badan yg disebut putik dengan bakal biji di dalamnya (tidak tampak)

Mak ro dan mikrosporofil (benang sari) terpisah atau terkumpul pada satu bunga

Autogami, anemogami, hidrogami, zoidiogami

Serbuk sari jatuh pada bakal putik

jarak waktu dr penyerbukan→pembuahan pendek

berupa inti sperma (inti generatif) yg tdk bergerak aktif

ada yg berkambium, ada yg tdk

ada yg menebal sekunder, ada yg tdk

berkas pembuluh pengangkut ada yg kolateral terbuka, kolateral tertutup, ada yg bikolateral

xilem terdiri atas trakea dan trakeida

floem dg sel-sel pengiring

Salah satu contoh tentang penelitian biosistematik: kajian kultivar salak bali “Salacca zalacca varietas amboinense (Becc.) Mogea.”

Berdasarkan tinggi tanaman, rangkaian daun, jumlah duri, karakter buah yang meliputi: warna sisik atau kulit buah, warna, aroma, dan rasa daging buah petani salak Sibetan membedakan salak Bali menjadi 12 macam nama salak yaitu:

  1. Salak ‘Nanas’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah yang putih kekuningan dan rasa buahnya manis seperti nanas.
  2. Salak ‘Nangka’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, rasa        buah manis harum seperti buah nangka.
  3. Salak ‘Maong’: Kulit buah coklat kemerahan dengan bercak-bercak putih yang oleh  petani salak disebut “maong” atau jamuran. Daging buah putih kekuningan, rasa       manis.
  4. Salak ‘Putih’: Kulit buah putih, daging buah putih kekuningan, oleh penduduk sering disebut salak “toris” yaitu orang asing yang mempunyai kulit bule atau salak       “mangku” yaitu seorang rohanian Hindu yang memakai pakaian adat putih.
    1. Salak ‘Gula pasir’: Kulit buah coklat kehitaman, daging buah putih, rasanya manis seperti gula pasir.
    2. Salak ‘Gondok’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, bau buah harum seperti bunga “gondok” atau bunga cempaka.
    3. Salak ‘Sepet’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah putih kekuningan, rasa sepet.
    4. Salak ‘Boni’: Kulit buah coklat kemerahan, daging buah merah seperti buah “boni” (Antidesma bunius Spreng) yang masak. Salak ini juga diberi nama salak “getih” (darah) karena daging buah yang merah.
    5. Salak ‘Cengkeh’: Kulit buah warna coklat kemerahan, daging buah warna putih kekuningan dan agak keras, rasa seperti cengkeh.

10.  Salak ‘Nyuh’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kekuningan. Jumlah duri sedikit, salak “nyuh” mempunyai pelepah daun seperti pohon “nyuh” atau pohon kelapa.

11.  Salak ‘Pada’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kekuningan. Tinggi tanaman yaitu 1 – 1,5 m sehingga sering pula disebut salak ‘Kate’. Panjang daun hampir sama satu dengan lainnya, oleh penduduk disebut “pada”. Panjang tangkai daun 0,5 – 1 m.

12.  Salak ‘Injin’: Kulit buah merah kecoklatan, daging buah putih kehitam-hitaman seperti “injin” atau beras ketan hitam.

Tabel  Ciri morfologi salak Bali

Ciri Nama Salak
Nns Ngk Mao Pth Gpr Gdk Spt Bon Ckh Nyh Pad Ijn
1. Tinggi tanaman

a. 1 –1,5 m

b. 4 – 7 m

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

2. Panjang daun

a. 0,5 – 1m

b. 4 – 6 m

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

3. Panjang anak daun

a. 30 – 35 cm

b. 40 – 73 cm

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

-

+

4. Jumlah duri pada

tangkai daun

a. 38 – 60 duri

b. 70 – 138 duri

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

-

+

5. Duri halus pada

bagian adaksial

a. tidak ada

Ad      b. ada

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

-

+

6. Kulit buah

a. putih

b. Merah kecoklatan

dengan bercak putih

c. Merah kecoklatan

-

-

+

-

-

+

-

+

-

+

-

-

-

-

+

-

-

+

-

-

+

-

-

+

-

-

+

-

-

+

-

-

+

-

-

+

7. Daging buah

a. Merah

b. putih

c. putih dengan garis

hitam

d. putih kekuningan

-

-

-

+

-

-

-

+

-

-

-

+

-

-

-

+

-

+

-

+

-

-

-

+

-

-

-

+

+

-

-

-

-

-

-

+

-

-

-

+

-

-

-

-

-

-

+

-

8. Rasa daging buah

a. Manis seperti gula

b. Manis

-

+

-

+

-

+

+

-

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

-

+

Keterangan: Nns =  ‘Nanas’. Ngk = ‘Nangka’. Mao = ‘Maong’. Pth = ‘Putih’. Gpr = ‘Gula pasir’.     Gdk = ‘Gondok’.

Spt = ‘Sepet’. Bon = ‘Boni’. Ckh = ‘Cengkeh’. Nyh = ‘Nyuh’. Pad = ‘Pada’. Ijn = ‘Injin’

+ = Ciri tersebut terdapat pada salak yang bersangkutan

- = Ciri tersebut tidak terdapat pada salak yang bersangkutan.

Tabel  Data matriks ciri morfologi salak Bali

No Nama Salak Ciri Morfologi atau Nilai
A1 A2 B1 B2 C1 C2 D1 D2 E1 E2 F1 F2 F3 G1 G2 G3 G4 H1 H2
1. ’Nanas’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
2. ’Nangka’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
3. ’Maong’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1   0 0    0    0    1 0    1
4. ‘Putih’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 1   0   0 0    0    0    1 0    1
5. ’Gula pasir’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    1    0    0 1    0
6. ’Gondok’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
7. ’Sepet’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
8. ’Boni’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 1    0    0    0 0    1
9. ’Cengkeh’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
10. ’Nyuh’ 0   1 0   1 0   1 1   0 1   0 0   0   1 0    0    0    1 0    1
11. ’Pada’ 1   0 1   0 1   0 0   1 0   1 0   0   1 0    0    0    1 0    1
12. ’Injin’ 0   1 0   1 0   1 0   1 0   1 0   0   1 0    0    1    0 0    1

Keterangan:

A1 A2 = tinggi perawakan 1 – 1,5 m & 4 – 7 m,  B1 B2 = panjang daun 0,5 – 1 m & 4 – 6 m,  C1 C2 = panjang helai daun 0,30 – 0,35 m & 0,40 – 0,73 m,  D1 D2 = jumlah duri pada tangkai daun 38 – 60 & 70 – 138  ,  E1 E2 = ada tidaknya duri pada adaksial tangkai daun,  F1 F2 F3 = warna sisik buah putih; merah kecoklatan dengan bercak putih; merah kecoklatan,  G1 G2 G3 G4 = daging buah salak merah; putih; putih dengan garis hitam; putih kekuningan, H1 H2 = rasa buah salak manis seperti “gula pasir” & manis.

Angka 0 = ciri morfologi tersebut tidak didapatkan pada salak yang bersangkutan.

Angka 1 = ciri morfologi tersebut terdapat pada salak yang bersangkutan.

Gambar pengelompokkan kedua belas kultivar salak bali berdasarkan kesamaan ciri morfologi

About these ads

Tentang Fadhil Almasyhur

Hello . . . I'm Achmad Fadhil Almasyhur, i'm just an ordinary *but weird* Senior High School Student . . . :D Had an interest in Sushi, Batagor, Omelet & many more . . . I love to cook & i hope that something i cook will be delicious . . . :)
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s